Pengorbanan Tim Kuda Hitam Berbuah Juara

TAK sia-sia pengorbanan yang dilakoni pemain-pemain MTsN Darul Amal, Kecamatan Jampang Kulon untuk bisa ikut ajang Liga Pendidikan Indonesia tingkat Kabupaten Sukabumi. Tim asuhan Sandy Firmansyah ini harus menempuh perjalanan 5 jam lebih untuk sampai di lokasi pertandingan, Stadion Korpri, Cisaat, Kabupaten, Sukabumi.

Kalau jalan yang dilewati mulus dan lurus-lurus saja, mungkin tak masalah. Persoalannya kondisi jalan Jampang Kulon-Cisaat yang berjarak sekitar 134 km itu, banyak yang rusak dan medannya berkelok-kelok. Akibatnya, beberapa pemain sempat mengalami pusing dan muntah-muntah.

Konsekwensi lain dari jauhnya jarak tempuh itu tentu biaya besar yang harus ditanggung tim. Itu sebabnya, menginap di ibukota Kabupaten Sukabumi itu, menjadi solusi paling tepat yang ditempuh oleh pelatih dan official. Lantas dimana tempat menginap yang gratis untuk tim beranggotakan 25 orang tersebut? Sebab kalau bayar, tentu sama saja tidak menghemat biaya.

Cerita Lipio

”Kami sangat beruntung, panitia menawarkan gedung KONI untuk tempat menginap. Kalau tidak, bingung juga mau nginap di mana. Karena untuk biaya makan saja, setiap hari kami harus mengeluarkan uang Rp550 ribu. Sementara kalau pulang ke Jampang Kulon, sewa mobil Rp600 ribu, kami butuh dua mobil untuk sekali jalan,” tutur Sandy saat berbincang sebelum laga final menghadapi SMP Negeri 1 Cibadak, Selasa (2/2).

Namun pilihan untuk menginap itu baru dijalani tim MTsN Darul Amal usai menjuarai grup B. Saat penyisihan yang dilakukan dengan sistem setengah kompetisi, Fahad Maulana Yusuf dkk memilih pulang ke Jampang Kulon. Sebab jadwal bertanding bisa berjarak sepekan karena pertandingan hanya digelar Jumat petang, Sabtu, dan Minggu.

”Pemain juga senang nginap di sana, karena tidak perlu capek di jalan. Kami sudah bilang ke mereka, kalau kita menang terus hingga masuk babak final, berarti akan menginap sekitar seminggu. Makanya, pakaian harus disiapkan,” jelas Sandy.

Agar tak tinggal dalam pelajaran, selama ”merantau” tersebut, para pemain tak lupa membawa beberapa buku sekolah. Setiap malam, usai shalat Isya, semua pemain bersantai sambil membaca buku menjelang tidur.

”Belajar paling 2 jam, terus tidur. Besoknya, latihan ringan,” ujar Aang Sadili, salah seorang pemain.

Seluruh pengalaman itu akhirnya menjadi dorongan bagi setiap pemain untuk membuktikan keberadaan mereka di Liga Pendidikan Indonesia. Apalagi keikutsertaan MTsN Darul Amal hanya dipandang sebagai kuda hitam oleh tim-tim lain.

MTsN Darul Amal telah membuktikan dirinya sebagai tim berkharakter dan penuh percaya diri. Di babak penyisihan grup mereka menjadi juara. Saat berlaga diperempat final, tim yang dimanajeri Nanang Syafrudin, Kepala Sekolah MTsN Darul Amal ini juga belum menemui lawan sepadan. Fahad dkk baru merasakan beratnya kompetisi Liga Pendidikan Indonesia tersebut saat berhadapan dengan salah satu favorit juara, SMP Parung Kuda.

”Waktu itu, kami benar-benar sempat pasrah. Karena saat adu pinalti, kami sudah ketinggalan 3-1.Tapi Allah ternyata memberi jalan bagi kami untuk melaju ke final. Dua penendang terakhir SMP Parung Kuda, gagal mengeksekusi pinalti tersebut,” imbuh Sandy.

Laga final sekalipun ternyata tak seberat yang dibayangkan Sandy. Terbukti, tim asuhannya justru sepanjang permainan mengusai bola. Alhasil, MTsN Darul Alam melumat SMP Negeri Cibadak, 3-0, sekaligus menjuarai Liga Pendidikan Indonesia tingkat Kabupaten Sukabumi.

 

(Mes)

Share and Bookmarks :
Bookmark to:http://www.ligapendidikan.com Del.icio.us Bookmark to:http://www.ligapendidikan.com Facebook Bookmark to:http://www.ligapendidikan.com StumbleUpon Bookmark to:http://www.ligapendidikan.com Google Bookmark to:http://www.ligapendidikan.com Diigo Bookmark to:http://www.ligapendidikan.com Technorati