Disiplin, Kunci Keberhasilan SMA Darussalam Tangsel
JUARA tak lahir secara instan. Untuk meraih gelar terhormat tersebut butuh proses dan hal itu telah dibuktikan oleh SMA Darussalam, Tangerang Selatan (Tangsel). Tim sepakbola dari sekolah yang berlokasi di bilangan Ciputat ini sukses menjadi jawara untuk kategori SMA pada ajang Liga Pendidikan Indonesia Tahun Pembinaan 2009/2010.
Bila sebelumnya kedigdayaan mereka hanya santer di wilayah Jabodetabek lantaran selalu masuk tiga besar turnamen Piala Coca-Cola dan bahkan pernah menjuarai ajang tersebut pada 2008, kini dengan predikat juara Liga Pendidikan Indonesia Tahun Pembinaan 2009/2010 yang notabene kompetisi sepakbola berjenjang mulai dari kabupaten/kota, provinsi, wilayah, dan nasional, SMA Darussalam makin disegani di kancah persepakbolaan antar-SLTA di Indonesia.
Perjalanan SMA Darussalam ke tangga juara Liga Pendidikan Indonesia tingkat nasional di Yogyakarta diawali ketika mereka menjadi juara di tingkat Kota Tangerang Selatan. Sukses Yopi Hestama dkk ini berlanjut saat bertarung di tingkat Provinsi Banten dengan mengalahkan wakil dari Tangerang di final yang berlangsung di Pandeglang. Kemenangan ini mengantar SMA Darussalam sebagai wakil Provinsi Banten di tingkat Wilayah 3 yang berlangsung di Jakarta 24-28 April lalu.
Berada satu wilayah dengan tim kuat dari Provinsi Jawa Barat, tuan rumah DKI Jakarta, dan wakil Kalimantan Barat tak membuat SMA Darussalam ciut. Justru kekuatan tersembunyi yang dimiliki sekolah yang berada di bilangan Ciputat ini membuat mereka sulit terdeteksi tim lawan. Hingga akhirnya tim yang dimanajeri Ubaydillah ini keluar sebagai juara dan maju ke kompetisi 8 Besar Liga Pendidikan Indonesia Tingkat Nasional di Yogyakarta.
Di tingkat Nasional, persaingan yang dihadapi SMA Darussalam kian ketat. Bahkan mereka berada di grup neraka bersama tim favorit juara SMAN 1 Sekayu Musi Banyuasin, Sumsel, SMA YPK Biak Numfor, dan SMAN 2 Peusangan Bireuen, Nanggroe Aceh Darussalam. Namun diam-diam tim asuhan Purwadi ini mampu lolos meski hanya sebagai runner up di bawah SMAN 2 Peusangan.
Menjadi nomor dua di grup memaksa SMA Darussalam harus berhadapan dengan tim tuan rumah, SMA Muhammadiyah 7 Yogyakarta yang menjadi juara grup B. Sekali lagi kematangan mental Yopi Hestama dkk mampu membuat mereka mengatasi tekanan penonton yang memadati stadion UGM. Ambisi SMAN Muhammadiyah 7 untuk berjaya di kandang dipatahkan SMA Darussalam dengan skor telak 1-3.
Selanjutnya di partai puncak, SMA Darussalam melumat wakil Jawa Timur, SMAN 1 Bangkalan. Kemenangan ini juga harus diraih dengan susah payah. Seri hingga babak perpanjangan waktu, memaksa kedua tim untuk menjalani drama adu pinalti. Dalam momen ini pemain-pemain SMA Darussalam kembali menunjukkan kematangan mental mereka. Tekanan berat akhirnya sukses dilewati dengan mengalahkan SMAN 1 Bangkalan 10-9.
Lantas apa resep ketangguhan SMAN Darussalam ini?
"Disiplin, konsistensi, dan mental juara yang dimiliki anak-anak," tegas Ubaydillah, sang manajer saat berbincang dengan Tim Media Liga Pendidikan Indonesia di Yogyakarta, Minggu (9/5).
Ya, kedisiplinan menjadi tolok ukur pertama bagi Ubaydillah dan sang pelatih Purwadi (65) dalam memilih pemain. "Kami tidak butuh pemain yang hanya pintar main bola," tukas Andi, panggilan akrab Ubaydillah.
"Misalnya, disiplin mengikuti jadwal latihan, bisa diartikan pemain tersebut memiliki keinginan untuk maju. Kalau sudah punya keinginan untuk maju, tinggal mengasah mentalnya untuk konsisten bermain dan meraih juara," timpal Purwadi.
Cerita soal proses perekrutan pemain, Andi yang juga guru agama di sekolah tersebut, menuturkan, setiap tahun ajaran pihaknya melakukan seleksi bagi calon siswa yang memiliki bakat di bidang sepakbola. Sebelum diterima, para calon siswa itu akan digodok selama dua pekan dalam latihan yang dipimpin oleh sang pelatih Purwadi.
"Kalau disiplinnya bagus dan teknisnya mendukung, kita rekomendasikan untuk direkrut sebagai siswa. Begitu masuk mereka ini akan diberikan potongan uang masuk dan diskon uang bulanan sekolah. Jumlah pemain tiap angkatan adalah 40 orang, sehingga setiap tahun kami punya stok pemain sebanyak 120 orang," kata menantu pemilik SMA Darussalam tersebut.
Para pemain ini akan bersaing masuk tim inti yang membela sekolahnya dalam setiap turnamen. Bahkan sebagai sebagai pemacu semangat, pihak sekolah akan memberikan potongan uang bulanan sekolah yang lebih besar bila pemain tersebut masuk tim inti.
"Intinya, kami ingin memberikan kontribusi yang cukup berarti bagi pengembangan bibit dan persepakbolaan Tanah Air karena pendidikan bisa berjalan dengan prestasi," tukas pria asli Betawi ini.
Dalam urusan latihan, pemain-pemain SMA Darussalam ternyata tidak seberat yang dibayangkan banyak orang. Pelatih Purwadi hanya menetapkan jadwal dua kali seminggu, yakni Rabu dan Jumat. Sekali lagi, jadwal ini sudah rutin berlangsung sejak 3 tahun belakangan dan frekuensinya tidak akan ditambah meski tim sedang menghadapi sebuah turnamen.
"Karena ini sifatnya ekskul, jadwal latihannya dilaksanakan selepas pulang sekolah. Tempatnya pun di lapangan milik orang yang kami sewa setiap Rabu dan Jumat," jelas Purwadi, mantan pemain nasional era 1967 tersebut.
(Mes)

