Arum, Juvedona Balikpapan yang Bermimpi Jadi Pengurus PSSI

JANGAN coba singgung soal Juventus pada Ari Mulyaningrum. Gadis berjilbab ini bakal langsung nyerocos mengenai seluk beluk tim sepakbola asal Kota Turin Italia tersebut. Tak hanya soal nama-nama bintangnya, siapa calon lawan dan pemain mana yang sedang diincar serta akan dibuang oleh klub berjuluk si Nyonya Tua itu pasti dengan gambang dibeberkannya.

Kecintaan pada Juventus tak hanya diwujudkan Arum, panggilan akrab gadis asal Kota Bontang kelahiran 11 Januari 1990 ini, dengan sekadar menonton setiap pertandingan Del Piero dkk di layar kaca. Ia juga aktif sebagai anggota dan pengurus Juventini, komunitas penggemar Juventus di Indonesia, chapter Balikpapan.

Berangkat dari kecintaan pada Juventus tersebut, Juvedona, julukan bagi kaum perempuan anggota pecinta Juventus ini, akhirnya ikut terlibat menjadi pengurus tim sepakbola di lingkungan kampusnya di Sekolah Tinggi Teknologi (STT) Migas Balikpapan. "Sejak kecil aku memang suka dengan sepakbola. Tim kesayangan aku Juventus. Tapi aku enggak ingin hanya sekadar menonton. Karena aku perempuan, cukup sulit untuk terjun sebagai pemain di lapangan, makanya memilih untuk menjadi pengurus sepakbola. Alhamdulillah, kampus mempercayai aku sebagai asisten manajer," ujar Arum saat berbincang dengan Tim Media Liga Pendidikan Indonesia di Yogyakarta .

Meski jabatannya hanya sebagai asisten manajer, peran gadis berwajah manis ini cukup vital. Maklum, sang manajer tim tidak bisa turun secara aktif mengingat kesibukannya yang cukup banyak sebagai Ketua Yayasan STT Migas.

                                                                          Manajer STT Migas Balikpapan.

Tengok saja ketika timnya menjadi peserta Liga Pendidikan Indonesia Tahun Pembinaan 2009/2010. Sejak STT Migas Balikpapan terdaftar, mahasiswi Jurusan Pengolahan STT Migas Balikpapan ini kerap menghubungi Sekretariat Liga Pendikan Indonesia di bilangan Stadion Utama Senayan, Jakarta. Mulai dari urusan daftar pemain, kartu komunitas, surat menyurat hingga jadwal pertandingan yang akan mereka lakoni di Tingkat Provinsi Kalimantan Timur. Bahkan intensitasnya makin tinggi manakala menjelang jadwal putaran Wilayah dan Nasional. Maklum, tim STT Migas merupakan wakil Kaltim ke tingkat Wilayah, dan karena tak punya lawan tanding, mereka langsung maju ke tingkat Nasional di Yogyakarta 2-8 Mei.

"Sebagai seorang manajer, aku memang harus mengurus semua persoalan nonteknis bagi tim agar mereka bisa konsentrasi bermain di lapangan," kata Arum

Selama di Yogyakarta, Arum benar-benar menunjukkan tugas dan tanggung jawabnya dalam mengurusi masalah akomodasi, transportasi dan konsumsi. Misalnya, tatkala hotel penginapan mereka bermasalah, ia buru-buru mengubungi panitia untuk mencarikan hotel lain. Padahal kala itu jam sudah menujukkan pukul 23.00 WIB dan besoknya STT Migas akan melakoni laga perdananya melawan Universitas Negeri Papua.

"Kalau masih bisa ditolerir, pasti kami tidak ingin merepotkan pantia. Tapi kondisi yang kami alami di Hotel Caniga itu sudah tidak kondusif untuk menginap. Karena air dan listriknya mati-mati terus. Padahal tim kami kan perlu istirahat dengan nyaman agar bisa fit saat bertanding. Dan, Alhamdulillah, panitia mendengar keluhan kami dengan memindahkan tim STT Migas ke hotel yang fasilitasnya lebih memadai," tukasnya.

Saat timnya berlaga di babak penyisihan Liga Pendidikan Indonesia, wajah tegangnya ikut mewarnai banch STT Migas Balikpapan. Tak jarang Arum ikut berteriak menyemangati pasukannya untuk berjuang tanpa kenal lelah.

Namun, kurangnya pengalaman dan jam terbang saat mengikuti kompetisi di tingkat provinsi dan wilayah, STT Migas akhirnya kalah bersaing dengan Universitas Negeri Papua, Universitas Negeri Yogyakarta, dan IKIP Budi Utomo Malang di grup F. Bahkan wakil Katim di tingkat Perguruan Tinggi ini menjadi juru kunci di grup tersebut.

"Kami sadar tim kami lolos otomatis ke Yogya sebagai peserta tunggal Wilayah V Balikpapan karena tim-tim dari kontingen lain mengundurkan diri saat kompetisi dimulai. Kondisi itu sepertinya berdampak kurang baik dengan penampilan tim kami di Tingkat Nasional," kata pengidola Del Piero ini.

Disinggung soal kendala yang dihadapi dalam menjalankan tugasnya, mengingat pemain-pemain yang diurusnya notabene laki-laki dan teman-teman kuliahnya, gadis penyuka jus Alpukat ini dengan gamblang mengaku tidak ada. Kendati seorang perempuan dan masih berusia muda, Arum menuturkan, para pemainnya  tetap menaruh hormat. Karena itu, dia mengaku enjoy menjalani profesinya sebagai manajer tim STT Migas.

"Teman-temanku sangat fair dan menghormati posisi masing-masing. Kami ini kan menjalankan tugas dari kampus, jadi sama-sama sadar dengan tanggung jawab masing-masing. Lebih dari itu aku juga ingin membuktikan bahwa seorang perempuan bisa juga menjadi manajer tim sepakbola," ujar Arum seraya menambahkan impiannya untuk masuk menjadi salah seorang pengurus PSSI.


(Jul/Mes)


Share and Bookmarks :
Bookmark to:http://www.ligapendidikan.com Del.icio.us Bookmark to:http://www.ligapendidikan.com Facebook Bookmark to:http://www.ligapendidikan.com StumbleUpon Bookmark to:http://www.ligapendidikan.com Google Bookmark to:http://www.ligapendidikan.com Diigo Bookmark to:http://www.ligapendidikan.com Technorati