Sedih, Tak Bisa Bela Tim Sekolahnya

KECINTAAN Diki Sumatri terhadap sepakbola begitu menggebu. Rasa cinta itu sudah tumbuh sejak ia masih balita. Sang kakek adalah orang yang pertama kali menggenalkan bola kepada remaja asal Kota Bogor ini.

Ketika duduk bangku sekolah dasar, Diki mulai menjadi bagian tim sepakbola sekolahnya. Demikian pula ketika ia duduk di bangku SMP Negeri 14, Kota Bogor. Tak heran, ia sangat berambisi menjadi bintang sepakbola masa depan Indonesia.

                                      diki

Ambisinya itu ia tunjukan dengan mengajak temannya satu sekolah untuk membentuk tim dan mendaftar sebagai peserta Liga Pendidikan Indonesia
(LPI) tingkat Kota Bogor. Bersama SMPN 14 Bogor, ia ingin menunjukkan sekaligus mengembangkan bakat dan kemampuannya mengolah si Kulit Bundar dalam ajang kompetisi antarsekolah SMP, SMA dan Perguruan Tinggi tersebut.

"Saat mengetahui Liga Pendidikan Indonesia, saya langsung ngajak teman-teman bikin tim. Kami juga sudah sering latihan," kata Diki.

Namun, impian itu seakan sirna lantaran keputusan yang dikeluarkan sekolahnya. Namanya dicoret dari daftar tim SMP Negeri 14 Kota Bogor.
Pihak sekolah rupanya khawatir keikutsertaan Diki nantinya akan mengganggu persiapannya dalam menghadapi ujian nasional. Maklum, Diki sekarang duduk di kelas 3, sehingga ditakutkan saat kompetisi digelar dirinya sudah lulus SMP.

Selain itu, usia Diki juga sudah mendekati 16 tahun, tepatnya pada 25 Mei 2010 mendatang. Sementara dalam buku panduan, maksimal usia pemain untuk tingkat SMP adalah 15 tahun.

Keputusan ini jelas membuat Diki sedih dan kecewa. "Saya sedih dan kecewa.
Padahal saya sangat ingin menyalurkan bakat melalui Liga Pendidikan Indonesia ini. Teman-teman saya juga minta agar saya ikut masuk tim,"
tutur Diki.

Demi keinginannya berpartisipasi di Liga Pendidikan Indonesia, penggemar Persija dan Bambang Pamungkas itu mendatangi sekretariat Liga Pendidikan Indonesia di SUGKB, Senayan, Jakarta, baru-baru ini. Diki datang bersama ibunya Mimi Suratmi (38). Kedatangan mereka untuk menanyakan kemungkinan dispensasi bagi dirinya agar bisa bermain dan membela tim sekolahnya.

Sebelumnya, pada Juli 2009 lalu, Mimi juga pernah datang ke Sekretariat Liga Pendidikan Indonesia. Kala itu, ia ingin mencari kepastian informasi pelaksanaan Liga Pendidikan Indonesia.

"Saya itu ingin tahu, gimana sih sebenarnya agar bisa ikut menjadi peserta LPI. Karena anak saya (Diki Sumantri-red), sudah ngebet banget biar bisa ikut main di Liga Pendidikan Indonesia. Dia cemas, karena melihat di
Trans7 (Stasiun televisi yang menyiarkan secara langsung acara peresmian Liga Pendidikan Indonesia-red) Pak Presiden sudah sudah meresmikan LPI,"
kata Mimi kala itu.

Bahkan sebelum pulang, panitia nasional sempat menitipkan sejumlah brosur untuk disebarkan oleh Diki. Hal ini untuk lebih mengenalkan Liga Pendidikan Indonesia dan menjaring peserta lebih banyak lagi, khususnya di tingkat Kota Bogor.

Menanggapi harapan Diki tersebut, Sekretaris Panitia Nasional LPI, Edhi Prasetyo, mengatakan keputusan Diki bisa bermain atau tidak, diserahkan sepenuhnya kepada pihak sekolah. Panitia nasional tidak bisa mengintervensi keputusan sekolah.

Entah lantaran ketiadaan Diki dalam tim sepakbola SMPN 14, yang jelas sekolahnya akhirnya gagal menjadi juara Liga Pendidikan Indonesia Kota Bogor. Sebab pada pertandingan penentuan, tim asuhan asuhan Suparman tersebut takluk di tangan tim Kuda Hitam SMPN 12 dengan skor 0-1. Hasil itu memberi kesempatan kepada rival utama mereka, SMPN 19 untuk menjadi juara lantaran memperoleh nilai 7 dari tiga kali bertanding.


(Mes)

Share and Bookmarks :
Bookmark to:http://www.ligapendidikan.com Del.icio.us Bookmark to:http://www.ligapendidikan.com Facebook Bookmark to:http://www.ligapendidikan.com StumbleUpon Bookmark to:http://www.ligapendidikan.com Google Bookmark to:http://www.ligapendidikan.com Diigo Bookmark to:http://www.ligapendidikan.com Technorati